Sabtu, 30 April 2011

RI dan NII; Satu Wilayah Dua Negara


Pengertian tentang Negara secara umum adalah; ↲


1. Disebut Negara jika ada pemerintah. ↲



2 . Mempunyai penduduk atau ada rakyat. ↲



.3. Mempunyai wilayah kedulatan yang syah dan jelas batas-batasnya. ↲



4. Mendapat pengakuan dari negara lain terutama negara yang berbatasan. Selain ke 4 poin diatas ada lagi tambahan tentang identitas nasionalisme yaitu; bendera, bahasa resmi, lagu kebangsaan, mata uang dan ideologi negara. ↲



Republik Indonesia jelas sudah memenuhi segala persyaratan tersebut diatas bahkan sudah mapan sebagai suatu negara berdaulat dan cukup berpengaruh di Asia tapi bagaimana dengan NII? Berdasar info yang ramai disiarkan media maka diketahui bahwa; ↲



NII sudah memiliki sistim organisasi mirip pemerintahan, NII sudah punya pengikut yang mengaku sebagai warga negara NII, NII mempunyai wilayah kerja operasional tapi wilayah tersebut bukanlah wilayah kekuasaan NII tapi masih dalam kekuasan negara RI, jika NII mau jadi negara sesuai kriteria diatas maka yang mereka harus miliki adalah wilayah kekuasaan, wilayah ini bisa didapatkan dengan mengambil alih wilayah RI sebagian atau seluruhnya, apakah ini dapat terwujud ? Perlu diketahui bahwa RI mempunyai perangkat pertahanan negara yang cukup kuat dan tak mungkin dapat ditaklukkan oleh kelompok bersenjata yang abal-abal saja. Kondisi ini tentu mendorong NII untuk melakukan gerakan politik agar dapat memperoleh bahkan menguasai posisi politik penting dalam percaturan politik dalam negri serta birokrasi pemerintahan. Mengingat adanya kegiatan pengumpulan dana yang aktip dan massif maka dapat diduga bahwa dana yang terkumpul cukup besar, dana ini dapat saja dipakai membiayai politisi tertentu dari berbagai partai politik atau pejabat penting tertentu dalam organisasi pemerintahan. membandingkan NII dengan kelompok pembom yang memakai mercon dan bahan pupuk maka NII kelihatan lebih cerdik tapi jika NII dan tukang Bom bersekutu bisa saja mengacaukan RI. walau kelihatannya gerakan NII nampak tidak mengancam eksistensi pemerintah secara langsung tapi jelas bahwa gerakan ini makin meluas dan meresahkan masyarakat

Selasa, 26 April 2011

FORGIVE ME ( In Memorian with YA)



cari lah tulang rusuk yg lebih kuat untuk mu...
aku tidak ingin membuat mu sakit lagi....
cukup sampe di sini aku menyakitimu
anggap lah aku sebagai adik mu
karna hanya itu yang bisa aku terima dan aku berikan...


a.....
lupakan perasaan mu untuk ku
aku tidak akan pernah bisa mencintai mu....
aku hanya bermaksud untuk membahagiakan mu...
dan hanya ingin membuat mu bahagia...


maafkan atas semua kebodohan ku...
aku tau aku salah
aku menyesal melakukan semua
v semua sudah terjadi
dan sekarang hanya ini yang bisa q ucapkan untuk mu...


buka lah hati mu...
mereka masih ada untuk mu.
aku tidak akan pernah bisa menjadi tulang rusuk mu yg kuat....
aku minta maaf.........



(Missing named)

SIAPA PEMIMPIN KITA..??

"SIAPA DAN SEPERTI APA PEMIMPIN yang HARUS kita pilih
 untuk mengemban misi dan aspirasi kita UNTUIK MENUJU SEBUAH MASYARAKAT MADANI."

Tentunya, kita tidak serta merta memilih seorang pemimpin menurut subjektifitas pribadi, dan kita jangan sampai memilih seorang pemimpin yang terlalu berambisi untuk meraih kursi kepemimpinan-(boleh dibaca: ambisius)- demi kepentingan pribadinya. 
Sebab, pemimpin tidak tercipta karena keinginannya untuk berkuasa, tetapi ia tercipta karena bakat dan keterpanggilan hatinya secara ikhlas, ia terpanggil untuk menata keadaan di sekelilingnya agar terjadinya suasana yang lebih kondusif. Mungkin, saat ini kita sedang merindukan sosok seorang pemimpin sejati yang tentunya harus memiliki integritas moral, kesalehan pribadi dan sosial, kecerdasan akal dan latar belakang yang beradab.



Pemimpin sejati, tentunya harus lulus ujian dari roda kehidupannya sehari-hari. Bakat dan keterpanggilannya sebagai pemimpin akan terpeta lewat sikap dan kecakapannya dalam mengatasi berbagai problematika sosial yang yang sedang terjadi dihadapannya. Pemimpin sejati juga harus memiliki respon yang tertinggi terhadap dinamika dan perubahan, peka terhadap penderitaan, serta selalu bersikap terbuka terhadap saran maupun kritik yang dihujamkan kepadanya. 
Adalah sebuah keniscayaan bahwa seorang pemimpin sejati menggenggam kecerdasan-intelektual, emosional dan spiritual yang seimbang dan diterjemahklannya dalam gaya hidup ngayomi, berani dan rendah hati.
Semoga pemimpin sejati mampu hadir di tengah-tengah kita sebagai pengayom aspirasi rakyatnya, sebagai sosok rendah hati, mampu bersikap moderat dan tentunya ia bukan sosok seorang ambisius untuk meraih jabatan-jabatan strategis dalam sebuah kursi kepemimpinan. Amiin..



Lantas, SIAPAKAH YANG PANTAS UNTUK MENJADI PEMIMPIN dalam sebuah komunitas dan yang bisa membawa progresifitas dalam sedikit atau banyak hal???

FITRAH MANUSIA SEBAGAI PEMIMPIN

”Jig tong, di do’akeun sing meunang.
Tapi lamun geus meunang korsi, 
ulah poho kana ayat kursi jeung ulah Korupsi!!!”


Menjadi seorang pemimpin memang tidak mudah, tapi itu bukan hal yang sangat berat dan membebani kita. Untuk menjadi seorang pemimpin, kebanyakan orang sering merasa bahwa menjadi seorang pemimpin itu sulit, bahkan terkadang menjadi hal yang sangat menakutkan.

Mungkin paradigma awal itu terbentuk karena terlalu phobia mendengarkan kisah-kisah seorang pemimpin yang begitu banyak memerlukan perjuangan dan pengorbanan untuk memimpin bawahannya.
Ketakutan seseorang untuk menjadi seorang pemimpin, mungkin karena ia merasa bahwa dalam kursi kepemimpinannya nanti ia akan bekerja secara sendiri. Ia terlalu berfikir bahwa tidak akan ada seseorang yang akan membantu tugasnya sebagai seorang pemimpin. Bahkan lebih ironisnya lagi adalah, kebanyakan orang sering beranggapan bahwa dirinya tidak mampu bila ia menjadi seorang pemimpin.
Bukankah itu sebuah pemikiran yang sangat memprihatinkan bagi kita semua? Harus ada perubahan mind-set berfikir dan pemahaman kesadaran akan fungsi dan fitrah manusia sebagai seorang pemimpin, sehingga kesalahan berfikir (fallacy logic) dapat dihindari. Karena sebuah adat, kebudayaan, bahkan kehidupan abad modern yang tengah dibangun ini berawal dari sebuah proses pemikiran –dari alat berfikir- kita. Dan akibat dari cara berfikir kita yang salah, akhirnya kita malah berusaha menyengsarakan diri kita sendiri. Termasuk melemahkan fitrah kita sebagai seorang khalifah atau pemimpin di muka bumi.

Pada sejatinya kita adalah seorang pemimpin. Kita adalah pemimpin bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Namun, orang sering tidak menyadari bahwa dirinya adalah seorang pemimpin. Bukan hanya pemimpin bagi orang lain, bahkan ia tidak sadar bahwa dirinya juga adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. 
”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat : sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi” (QS. 2:30). Al-Maraghi menyatakan bahwa makna khalifah diartikan sebagai jenis lain dari makhluk sebelumnya, atau dapat juga berarti sebagai pengganti Allah untuk melaksanakan perintah-PerintaNya terhadap ummat manusia di muka bumi. 

Sebenarnya cukup sederhana dan tak perlu memerlukan banyak referensi untuk menjadi seorang pemimpin yang ideal. Meskipun banyak tipologi dan metodologi dalam kepemimpinan, toh kita sendiri yang harus berimprovisasi dalam menjalankan kursi kepemimpinan untuk menjadi sosok pemimpin hangat yang dibutuhkan oleh bawahan kita. Referensi kita untuk menjadi seorang pemimpin yang baik dan amanah sebenarnya cukup Al-Qur’an dan as sunnah, bahkan, bisa dikatakan itu merupakan referensi yang lebih dari cukup. 
Abdul A’la al-Maududi menyatakan beberapa konsepsi ringkas tentang kekhalifahan, bahwa Pertama, manusia bukanlah penguasa mutlak, melainkan hanya wakil Allah yang mahakuasa (QS 2:31; 7:22). Kedua, setiap bangsa yang memperoleh kekuatan dan wewenang berkuasa di sebagian bumi ini sesungguhnya hanyalah wakil Allah atas daerah yang dikuasainya tersebut (QA 7:69, 74, 120; 1: 14). Ketiga, kekhalifahan yang syah, tidak dianugerahkan kepada satu pribadi tertentu saja, tidak juga kepada suatu warga atau kelas dari satu komunitas tertentu, melainkan kepada setiap orang yang yang beriman dan beramal saleh (QS 24:55).
Dari penjelasan di atas, sangat jelaslah bahwa semua orang itu adalah seorang pemimpin. Potensi kekhalifahan (kepemimpinan) manusia itu tidak untuk sebagian orang saja, melainkan untuk semua orang yang mampu beriman dan melakukan amal perbuatan yang baik bagi sesamanya. Dan untuk mencapai fitrah manusia sebagai seorang pemimpin, manusia harus melakukan usaha-usaha karena di antara makhluk-makhluk ciptaan Tuhan, manusia memiliki posisi yang sangat unik dari makhluk ciptaan Allah lainnya.

Manusia diberi kebebasan berkehendak agar dirinya dapat menyempurnakan misinya sebagai khalifah Allah di muka bumi. Misi inilah –perjuangan untuk menciptakan sebuah tatanan sosial yang bermoral atas dunia- yang disebut Al-Qur’an sebagai ”amanah” (QS 33:72). Karena itu, kekhalifahan (kepemimpinan) bagi manusia adalah ”amanah, tugas, dan sekaligus tanggung jawab”. Amanah kekhalifahan tersebut dapat dipikul oleh manusia, berkat karunia dan kasih sayang Allah yang memberi berbagai kelebihan kepada manusia, berupa akal, ilmu pengetahuan, hati, dan kebebasan berkehendak, sehingga manusia memiliki kemampuan untuk mengungkapkan berbagai rahasia makhluk ciptaan Allah lainnya.

Jadi, sebagai manusia yang bertanggung jawab dan menghargai akan anugerah Tuhan yang telah diberikan kepada kita, kita harus berkata ”ya” dan ”menyatakan kesiapan” ketika kita ditunjuk untuk memegang sebuah amanah kepemimpinan yang dihadapkan kepada kita. Dan petikan di awal tulisan ini seharusnya menjadi bahan ingatan bagi seorang pemimpin, bahwa selama dalam kepemimpinannya, seorang pemimpin jangan menyelewengkan kekuasaan dengan memperkaya diri dan senantiasa membawa bawahannya menuju jembatan jalan yang lurus (shiraath al mustaqiem) untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur yang diridhoi Allah subhanahu wata’ala.

DEAR BROTHERS

Dear saudaraku,
Saudaraku, maafkan kami dengan sebenar-benarnya permintaan maaf yang begitu tulus dari sanubari kami. Sempurnakanlah permintaan maaf kami dengan menganggukan kepala yang dipenuhi rasa pasrah & tulus atas kehendak dari-nya...
Namun saudaraku, janganlah kau anggukan kepalamu untuk mengakhiri hela nafasmu yang telah begitu setia mengalunkan keyakinan & keteguhan diantara pendengaran kami yang semula kami tak pernah mau mendengarnya...
Aku mohon saudaraku, jangan kau bersikap demikian demi semua kerelaanmu terhadap apa yang sedang kalian perjuangkan hingga saat ini...

Karena kini, kami mulai membuka telinga untuk mendengar setiap jerit nada yang kalian alunkan dengan penuh kekhusyuan di dalamnya...
Menjeritlah kalian dihadapan kami, menjeritlah saudaraku... Karena kami pun tak sedikit untuk menjadi tuli...
Saudaraku, ikhlaskanlah atas semua cerita yang telah kau hamparkan diantara seluruh pandangan kami... Kami seharusnya tertunduk malu ketika melihat mata kalian yang begitu merah lagi basah karena tanpa sengaja kalian t’lah menjamahi kepedihan yang seharusnya tak kalian rasakan hingga saat ini...

Tabahlah saudaraku, tabahlah, karena keyakinan kita tak akan pernah gugur sampai waktu menghentikan lajunya di bumi ini...
Tabahlah saudaraku, karena sebisa yang kami bisa, kami akan selalu menyeka setiap tetes air mata kalian...
Jila perlu, akan kami teguk air mata kalian agar kita semua kepedihan & penderitaan yang kalian rasakan berada dalam hati kami...
Saudaraku... tetaplah kalian berjuang dengan tali yang telah kita rentangkan bersama...

AIR MATA

Air mata itupun seketika jatuh… 
tetes demi tetes, semuanya mengalir dengan penuh irama, 
seolah menghantarkan segala kepedihan yang ada padanya dengan penuh rasa luka, duka, 
dan semuanya pun berkumpul dalam linangan air matanya yang begitu bening, 
dalam air mata yang terelakan oleh indera…


Air mata itupun kembali jatuh, 
seolah tak pernah habis butiran demi butiran yang membasahinya... 
Tak pernah ada rasa kecewa dari mulut mereka, 
hingga semuanya membisu, 
hanya tatapan mata anak-anak lugu danpolos yang berusaha memberanikan diri mereka untuk menerka semua yang ada dihadapannya…
mereka membungkus semuanya dengan kekalutan yang ada pada jiwa mereka… bukan kita??

Sekali lagi, air mata itupun jatuh membasahi bumi ini... 
Ia tak akan pernah berhenti membasuh nurani kita lewat sekaan air mata yang mereka alirkan lewat keteguhan hatinya di bumi ini...
Mata mereka, yang semula memancarkan setiap mimpi dalam penglihatannya...
Kini, mimpi itu telah terbungkus oleh air mata mereka...
Air mata di bumi palestina…

AKU DAN KATA

Semuanya berawal dari sebuah peristiwa yang sangat berkesan bagiku, peristiwa yang sebelumnya tidak aku rencanakan sedikitpun. Namun, yang sebenarnya ada satu hal atau bahkan mungkin lebih dari itu yang tanpa ku sadari di depan langkahku ada sebuah sekenario Tuhan yang telah membukakan jalan terang yang merupakan titik awal enlightment (pencerahan) dalam pemahaman hidupku selama ini.


Sore itu, sebuah rencana yang akan aku refleksikan sebagai konsistensi diriku dengan apa yang telah aku ucapkan pada seseorang. Seseorang yang telah aku rasa sebagai bagian penopang dalam mimpiku selama ini, mimpiku untuk merasakan indahnya kebersamaan dengan kewibawaanku sebagai seorang kakak. Ya, orang itu kurasakan sangat memenuhi kriteria idaman yang selama ini berhamburan dalam otakku. Kriteria seseorang yang simple, pendengar yang baik dan tipikal orang yang mau untuk ku ajak berkontemplasi dengan rasioku sendiri, rasio tanpa adanya sebuah referensi. Rasio yang menurutku sangat wajar, aku tak terlalu memerlukan seorang informan, karena itu hanyalah pemikiran statis mereka, pemikiran tanpa alur dan dinamika yang tak substantif. Sesuatu hal yang sangat membuatku jenuh dan membuatku merasa bukan sebagai seorang manusia lagi, atau dengan kata lain bisa ditulis dengan kata yang sangat elegan, ialah aku merasa bukan sebagai ”khalifah fil ardh” Tuhan di muka bumi ini. Aku sangat mengagumi rasioku sendiri daripada rasio mereka, sebab aku terlalu menghargai dzat yang telah melimpahkan anugrah pada diriku sendiri. Aku takkan menjadikan mereka tuhan-tuhan kecil dengan menjadikan rasio pemikirannya sebagai kiblatku dalam berucap. Karena satu yang selalu dan harus ku jadikan sebagai referensiku, ialah sesuatu dzat yang sangat ideal. Dzat yang selalu membuatku nyaman dengan idealisme yang ku letakkan, karena tujuan utamaku adalah menuju sebuah dzat yang sangat ideal dengan cara yang ideal pula.

Sesaat dalam perjalananku, aku berusaha untuk mengulur waktu yang dengan sengaja telah menghantam ketenanganku. Ketika dia berada di belakangku dan berjalan dengan penuh irama yang sempat membuatku tertawa mungil, ku abaikan bising kanan-kiri yang kadang menghujam pembicaraanku dengannya. Seketika pula, ketenangan itupun datang menyelimuti keresahan yang selama ini sering bersandar di pikiranku. Jalan-jalan yang sebenarnya gelap ketika kami melewatinya, bermetamorfosa memberikan cahayanya yang sederhana, meskipun redup, namun itulah hal yang menurutku sangat berarti ketika bersamanya. Karena cahaya yang paling terang bagiku saat itu adalah ketika dia berusaha memberikan tawanya untukku, tawa yang membuat resahku memaksa diri untuk pergi dari benak dan fikiranku. Meskipun tawanya kadang penuh dengan keterpaksaan, namun itu sesuatu yang ku anggap sangat natural. Karena menurutku takkan pernah ada seorangpun yang merasa dirinya ikhlas melakukan segala hal, meskipun mereka menyatakan melakukan semuanya demi dzat yang esa, dan akan menerima konsekuensi dari yang diaplikasikannya dalam sebuah alam yang ghaib, apakah itu sebuah nama yang dikatakan ’keikhlasan’?.

Dulu, sebelum ketika aku berhasrat untuk mencari definisi tentang dirinya, aku tak sempat menjelaskan semua makna tentang alfhabet. Aku hanya sempat berucap kata ”a”, dan tak sedikitpun makna yang kujelaskan padanya. Aku hanya sempat membunyikan suara dengan makna yang kosong. Itu bukan karena ”curiosity” ataupun ”sense of attention” ku yang memudar, namun hanya seseorang yang kurasakan sangat tepat untuk mengetahui makna dari alfhabet yang terangkai sangat sistematis itu. Bukan pula aku terlalu menghamburkan egoku sendiri, namun aku hanya bersandar pada rasio sederhana yang aku miliki. Dan yang aku rasakan itu merupakan sesuatu yang wajar, karena aku mempunyai hak perogratif atas segala hal yang berkaitan dengan diriku sendiri. Apakah aku salah dengan itu semua? apakah aku tak perlu melakukan itu dengan menistakan rasioku sendiri? Kurasa, itu bukanlah sesuatu yang tak perlu diperdebatkan, karena yang terpenting bagiku adalah bagaimana aku bisa mencari sesuatu yang ideal dan kembali dengan cara yang ideal.
Seperti perkataan dalam bahasa arab yang menyatakan; ”Innalillahi wa inna ilaihiraji’uun”. Sebuah kata yang tidak hanya mengandung semua rasa ketakutan bagi orang awam yang mendengarnya. Selain mengandung sebuah makna yang magic, namun itupun mengandung makna yang sesungguhnya sangat sakral dan substansial. Yang tak lain adalah ”sesuatu yang berawal dari Tuhan pasti akan kembali kepada-Nya”. Banyak sekali orang-orang awam mempersefsikan bahwa itu adalah sebuah ilusi ’tentang sakaratul maut’, ilusi orang-orang tentang kematian, hal klasik yang sering diperdebatkan para sufistik.

Kita terlalu dibuai oleh Pemahaman yang sangat sempit dari sebuah implikasi dengan doktrinasi yang kurang relevan, bahkan kemungkinan besar bisa sangat fatal. Seolah-olah kita tidak dibiarkan menjadi manusia yang benar-benar memanusiakan nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam diri kita sendiri, menghambat kemanusiaan kita dengan proses kemandegan dalam berfikir. Karena salah satu kenapa manusia di tinggikan derajatnya dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang lain adalah dari rasio (akal) yang Tuhan anugerahkan kepada kita.
Apakah kita berwujud dalam lantai Tuhan ini hanya untuk mempermasalahkan hal-hal yang tidak ideal seperti itu? Hal-hal yang sering mempermasalahkan persoalan yang ghaib, perdebatan mulai dari kapan bumi ini berwujud, sampai perdebatan mengenai kapan bumi ini akan diberhentikan waktunya, dan ketika matahari berlari tak tahu dimana tempat yang sesungguhnya sangat ideal baginya, hingga sangkakala Tuhan mulai diperdengungkan di hadapan manusia hingga mereka bertebaran layaknya kapas. Apakah itu sebuah hal yang mesti diperdebatkan oleh kita?

Sampai-sampai kita sering terlena terhadap sejarah klasik dari kaum-kaum samiri, bahwa dikatakannya ada sebuah perwujudan irasional dari sosok manusia di zamannya itu, dan dia adalah salah satu makhluk yang ditangguhkan batas usianya di muka bumi ini oleh Tuhan. Para penggila keghaiban sejarah sering mengkultuskan dia sebagai suatu hal yang bisa menghancurkan peradaban cerah bumi yang selama ini telah di metamorfosis oleh Sang Revolusioner Zaman, Nabi Muhammad SAW.

Dalam perspektif filsafat, perkataan ”Innalillahi wa inna ilaihiraji’uun” berarti menuju sebuah tujuan yang pada hakikatnya adalah suatu dzat yang sangat ideal, ”sesuatu yang berawal dari yang ideal harus menuju sebuah pencapaian akhir dengan cara yang ideal pula”. Sebuah makna adiluhung yang penuh dengan makna keseimbangan. Bukankah ideal berarti menempatkan sesuatu yang harus berada pada tempatnya?

Kita merupakan sebuah bentuk manifestasi dari Tuhan, kita dan alam semesta adalah miniatur-miniatur Tuhan. Ada beberapa proses kejadian ketika Tuhan berfikir dan bercermin. Ketika Tuhan berfikir lalu terciptakan malaikat dan kemudian Ia bercermin, Ia tidak bisa melihat wujudnya dalam cermin meskipun unsur ciptaannya berawal dari nur. Kemudian, ketika Tuhan berifikir lalu terciptakan jin dan kemudian Ia bercermin kembali, Ia tidak melihat wujud-Nya dalam. Ketika Tuhan berfikir lalu terciptakan hamparan bumi, Ia masih tidak bisa melihat wujudnya dalam cermin. Namun, ketika Tuhan berfikir tentang suatu yang ideal kemudian terciptakanlah adam dalam bentuk manusia, dan ketika Tuhan bercermin ia bisa melihat wujudnya dalam cermin. 

Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak adam dari sulbi mereka dan Allah Mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : ”bukankah Aku ini Tuhanmu?”, mereka menjawab : ”betul (Engkau Tuhan kami)”, kami menjadi saksi ...”

Harus ada sebuah kesadaran dalam diri setiap manusia agar ia bisa kembali menjadi sesuatu yang ideal, sebuah bahwa dia adalah manifestasi dari Tuhan itu sendiri, Sebuah kesadaran pula bahwa sifat-sifat Tuhan yang sesungguhnya telah dan masih termaktub dalam dirinya. Idealisme yang ideal dalam diri manusia adalah ketika dia menemukan kembali kefitrahannya. Fitrah manusia yang diawali dengan perjanjian primordial dalam bentuk pengakuan kepada Tuhan sebagai Dzat pencipta. Bentuk pengakuan tersebut merupakan penggambaran ketaklukan manusia kepada dzat yang lebih tinggi. Kesanggupannya menerima kontrak primordial tersebut mendapat konsekuensi logis dengan peniupan ruh Tuhan kedalam jasad manusia yang pada akhirnya harus dipertanggungjawabkan terhadapa apa yang dilakukannya di dunia kepada pemberi mandat kehidupan.

Peniupan ruh Tuhan sekaligus menggambarkan refleksi sifat-sifat Tuhan kepada manusia. Maka seluruh potensi illahiyah secara ideal dimiliki oleh manusia. Prasyarat inilah yang memungkinkan manusia menjadi khalifah dimuka bumi. Seyogyanya tugas kekhalifan manusia dibumi berarti menyebarkan nilai-nilai illahiyah dan sekaligus menginterpretasikanrealitas sesuai dengan persfektif illahiyah tersebut. Namun proses materialisasi manusia melalui jasad menimbulkankensekuensi baru dalam dalam wujud reduksi nilai-nilai illahiyah. Manusia hidup dalam realitas fisik yang dalam konteks ini manusia hanya ”mengada” (being). Hanya dengan ”kesadaran” (consiousness) lah manusia menemukan realitas ”menjadi” (becoming). Manusia yang menjadi adalah manusia yang mempunyai kesadaran akan aspek transenden sebagai realitas tertinggi dalam hal ini konsepsi syahadat akan ditafsirkan sebagai monoteisme radikal. Kalimat syahadat pertama berisi negasi yang seolah meniadakan semua yang berbentuk tuhan. Kalimat kedua lalu menjadi afirmasi sekaligus penegasan atas Zat yang maha tunggal (Allah). Menjiwai konsepsi diatas maka perjuangan manusia adalah melawan sesuatu yang membelenggu manusia dari yang di-Tuhan-kan. Itulah thogut dalam persfektif Qur’an.

Dalam menjalani fungsi kekhalifahannya, maka internalisasi sifat-sifat Allah dalam diri manusia harus menjadi sumber inspirasi. Dalam konteks ini tauhid menjadi aspek progresif dalam menyikapi persoalan-persoalan mendasar manusia. Karena tuhan adalah pemelihara kaum yang lemah (rabbulmustadh’afin); maka meneladani Tuhan juga berarti keberpihakan kepada kaum mustadh’afin. Pemahaman ini akan mengarahkan pada pandangan bahwa ketauhidan adalah nilai-nilai yang bersifat transformatif, nilai-nilai yang membebaskan, nilai yang berpihak dan nilai-nilai yang bersifat revolusioner. Spirit inilah yang harus menjadi paradigma dalam sistem pemikiran kita.
Islam sebagai landasan nlai yang secara sadar dipilih untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan serta masalah yang terjadi dalam suatu komunitas/masyarakat (transformatif). Ia mengarahkan manusia untuk mencapai tujuan dan idealisme yang dicita-citakan, yang untuk tujuan dan idealisme tersebut mereka rela berjuang dan berkorban bagi keyakinannya. Ideologi Islam senantiasa mengilhami dan memimpin serta mengorganisir perjuangan, perlawanan dan pengorbanan yang luar biasa untuk melawan semua status quo, belenggu dan penindasan terhadap umat Islam.

YaKoeSa...

* Ditulis dalam memenuhi salah satu tugas kemanusiaan, memanusiakan diri sendiri & orang lain.